Kumpulan tulisan maupun gambar akan aktivitas ucapan dan perbuatanku
yang berdasar dari pikiran, curahan hati, maupun pelajaran dari sekitar yang bercampur jadi satu


Hilmawan Ardianto
hilmawan@hotmail.com

27/01/10

Pacaran

Pacaran....


Sebuah kata yang memang tidak asing di dengar dan sudah menjadi hal yang lumrah di kehidupan masyarakat saat ini. Ketika 2 insan saling menyukai satu sama lain, kemudian mengutarakan satu sama lain dengan versinya masing-masing. Terjadilah jalinan kasih yang kemudian diresmikan status mereka dengan “Pacaran”. Aku belum tahu kata pacaran itu berasal dari kata apa, mulai nya darimana, atau bisa dibilang asal muasal berawalnya pacaran. Layaknya legenda yang belum terdeteksi awal keberadaannya namun terus berkembang dengan sendirinya.


Bahkan di zaman ini pacaran sudah tidak hanya melalui 2 gender yang berbeda (dalam hal ini laki-laki dan perempuan), namun 2 gender yang sama (homoseksual) sudah bisa melakukan pacaran. Seiring perkembangan zaman, seiring nya pola berpikir, bertindak, seiring juga perkembangan dalam hal berpacaran. Aku sendiri sampai dibuat bingung akhirnya. Pacaran yang pastinya tuh bagaimana.


“jangan bingung, Mas. Kalau mau tahu coba aja!”, ungkap temanku sambil tersenyum.


Iya bener juga sih. Ada memang ungkapan “Learning by Doing”. Hanya saja saat ini mungkin akankah lebih baik jika kita tahu dulu yang dimaksud dengan pacaran itu apa. Iya ngga si?!

Kalau ditanya sama orang yang sedang dalam status berpacaran, jawabannya macam-macam. Tapi ada juga yang bingung menjawab atau ada juga yang tidak tahu. Mereka melakukan karena sudah menjadi kebiasaan dialkuakn banyak orang.


Intinya kalau pada tahap awal komunikasi dalam hal “berteman” mereka sudah saling suka dan ada kecocokan satu sama lain, lalu mereka ingin mendapatkan sebuah tahap komunikasi yang lebih dan sifatnya privasi, maka terjadilah sebuah komitmen lebih dari sekedar berteman.

Berawal dari suka, kemudian sayang, lalu cinta. Saling menjaga ataupun memperdulikan satu sama lain. Perilaku terhadap pasangan untuk mengungkapkan perasaan mereka pun bisa lebih dari hanya sekedar berbicara ataupun berpandangan. Ungkapan itu bisa menuju ke perhatian yang lebih terhadap pasangan. “Kamu dimana?”, “Sama Siapa?”, “Kamu lagi apa?”, “Kamu udah makan belum?”, kalau belum makan, “Makan dong, sayang. Nanti kamu sakit.” misalnya pasangan sakit, “Kamu udah minum obat belum? Minum obat ya, biar cepet sembuh.”


Dari perhatian itu kemudian bisa berkembang menuju tahap bersentuhan, ciuman di bibir atau “French Kiss” lah istilahnya, atau malahan ada yang berujung ke arah sex atau bersetubuh. Dengan alasan untuk menunjukkan bukti rasa cinta terhadap pasangannya atau hanya sekedar untuk menyalurkan hasrat birahi dari kedua belah pihak saja, ataupun bisa karena kedua alasan tersebut.

Hingga berlanjut didalam proses perjalanan berpacaran tersebut, muncul berbagai hal-hal perbedaan diantara kedua belah pihak walaupun ada juga yang masih berlandaskan kasih sayang serta tanggung jawab sebagai seorang pacar. Perbedaan itu mengakibatkan percekcokan dari keduanya. Akibat dari percekcokan timbul kesalahpahaman yang beraneka ragam bentuknya. Ada yang bilang itu adalah bumbu-bumbu romantisme dalam sebuah jalinan. Namun jika tidak kuat atau bisa menghadapi berbagai perbedaan itu, maka diputuskanlah status mereka dalam berpacaran. Walaupun memang ada juga yang tidak mudah melepaskan sakit hati atau kenangan-kenangan pada masa mereka berpacaran.


Kalau dilihat dari perjalanan proses status berpacaran itu memang sama layaknya seperti proses perjalanan dalam status menikah ya. Hanya saja ada di dalam status berpacaran, ketika sudah tidak kuat menjalani ataupun tidak ada keinginan dari kedua belah pihak untuk melanjutkan status berpacarannya, keduabelah pihak bisa dengan mudah melepas status berpacaran mereka. Atau bisa juga mengembalikan lagi status mereka untuk kembali berpacaran. Kalau konteksnya menikah, akan ada urusan yang lain yaitu di pengadilan.


Jadi Pacaran itu Apa?

Dalam konteks agama, sepertinya tidak ada pengertian akan yang namanya pacaran. Namun secara konteks umum, pacaran yang ku tahu saat ini singkatnya adalah sebuah komitmen akan jalinan kasih diantara 2 insan tanpa legalitas.

Legalitas? Iya..kalau dengan legalitas ya artinya sudah tahap pernikahan. Namun perjalanan proses berpacaran kalau aku lihat ya sama seperti proses perjalanan menikah. Iya ngga sih?! Hanya saja perjanjian komitmennya tidak melalui hal-hal resmi yang sah dimata agama, hukum di masyarakat umumnya. Tidak ada akad nikah sebagai serah terima tanggung jawab dari ayah terhadap pasangan perempuannya, tidak ada surat-surat perjanjian hitam diatas putih sebagai bukti hubungan pasangan. Tidak ada saksi-saksi yang turut menghadiri perjanjian kedua belah pihak.

Jadi bisa dibilang Pacaran itu sifatnya ilegal namun tidak haram.

“Lho??!!!! Kok ngga Haram?!! Yang namanya ilegal ya haram dong!!!”

Ya memang pada akhirnya ada perseteruan antara haram atau tidaknya. Namun bagiku haram itu Allah yang menentukan dan yang Maha Mengetahui apa yang dilakukan hamba-Nya dalam aturan agama. Tidak semuanya orang yang terlihat baik itu adalah baik. Begitu pula sebaliknya.

Jadi, Haram dalam konteks pacaran bagiku tentatif sekali.

Selama terdapat adanya silaturahmi, saling menghormati, tanggung jawab, saling menyayangi satu sama lain, menghasilkan sesuatu yang positif, apakah itu bisa dibilang haram? Itu hanya pendapatku. Terserah orang mau berpendapat apa. Karena hak masing-masing individu.

Sekarang ya tinggal dari individu nya masing-masing. Karena menurutku pacaran yang berkembang di masyarakat ya berawal dari individu-individu yang berpikir dan bertindak, yang kemudian terbukti memberikan kebahagiaan yang dilihat dari masing-masing individu. Sehingga menjadi suatu image tesendiri yang menimbulkan berbagai macam versi.

So... Kalau Pacaran ya silahkan.

Namun, menurutku akankah lebih baik juga pelajari sebab akibatnya dengan tidak mendominasikan ego atau hati saja, atau logika saja.

Tapi berpikir dan bertindak dengan menyatukan logika dan hati disertai doa mungkin itu lebih baik. Walau terkadang itu yang paling sulit.

0 komentar:

Posting Komentar