Kumpulan tulisan maupun gambar akan aktivitas ucapan dan perbuatanku
yang berdasar dari pikiran, curahan hati, maupun pelajaran dari sekitar yang bercampur jadi satu


Hilmawan Ardianto
hilmawan@hotmail.com

01/01/10

KONGLOMERAT MELARAT

Banyak yang ingin menjadi konglomerat. Banyak yang bermimpi ingin jadi konglomerat. Duit banyak. Punya usaha dimana-mana. Punya mobil banyak. Rumah dimana-mana. Berkeliling/ jalan-jalan ke luar negeri. Deposito, tabungan di bank yang ratusan juta bahkan lebih hingga milyaran bahkan triliyunan di Indonesia bahkan di luar negeri. Tapi ironisnya, utangnya banyak banget. Dikejar-kejar atau ditagih utang sama bank.

Apakah menyenangkan untuk menjadi sosok konglomerat seperti itu?

Dan sosok-sosok konglomerat yang seperti itu banyak sekali yang saya lihat di sekitar kita.

“Yah… yang namanya usaha atau bisnis itu kan tidak luput dari hutang. Mau bisnis apa kan awalnya pasti hutang dulu dong!”, ucap salah satu sosok konglomerat yang berbicara pada saya.

Hmm… memang benar setiap usaha rata-rata selalu diawali dengan peminjaman modal apabila sang pengusaha itu tak memiliki dana cukup untuk menjalankan usahanya. Dengan melihat latar belakang sang pengusaha atau perusahaan yang dimilikinya, kepercayaan terhadap sang pengusaha, visi misi serta konsep ataupun system pemasaran untuk usaha yang akan dijalankanya. Dari kesemuanya itu pastilah tak luput dari sebuah obsesi dari si pengusaha.

Akan tetapi, manusia yang memilki obsesi tinggi selalu dirinya merasa tidak puas. Selalu ingin lebih, lebih, dan lebih. Ingin membuat dirinya memiliki image serta eksistensi yang tinggi. Hingga kebanyakan secara tidak sadar melahirkan sifat ketidaksabaran dan otomatis itu akan menjadi boomerang buat dirinya. Makanya banyak pengusaha-pengusaha kaya yang memiliki penyakit stress yang berlebihan, bahkan banyak pula hingga berakhir dengan bunuh diri.

Obsesi berlebihan ini juga menjadi dasar hingga segala cara dihalalkan. Semua adalah lawan dan tidak mengenal kawan, yang secara tidak langsung kondisi akan sosialisasinya menjadi tidak sehat. Terjadinya banyak pembunuhan, menyebarkan fitnah kemana-mana untuk satu tujuan yaitu obsesi untuk menjadikannya sosok yang mempunyai image dan eksistensi yang tinggi.

Apakah nyaman menjadi konglomerat dengan kondisi itu?


bersambung ...

0 komentar:

Posting Komentar