Kumpulan tulisan maupun gambar akan aktivitas ucapan dan perbuatanku
yang berdasar dari pikiran, curahan hati, maupun pelajaran dari sekitar yang bercampur jadi satu


Hilmawan Ardianto
hilmawan@hotmail.com

24/02/10

BISNIS multi level marketing (MLM) begitu marak di tengah masyarakat

Karena menawarkan berbagai reward dan income yang lebih tinggi daripada bisnis konvensional, bisnis MLM hadir dengan wajah menggiurkan.


Bagaimana realitasnya?

Ide network marketing pada mulanya muncul di Amerika sekira tahun 1930-an. Pada saat itu terjadi resesi, sehingga pabrik-pabrik hanya mampu memproduksi barang, namun tidak mampu mendistribusikan dan mempromosikannya. Ide “konsumen sekaligus distributor dan promotor” akhirnya muncul. Sejatinya, MLM adalah sebuah metode pemasaran yang menerapkan efisiensi, karena biaya distribusi dan promosi dipotong. Katanya, banyak nilai plus dalam bisnis ini. Modal tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan hasil yang akan didapat jika pandai membangun jaringan. Nantinya akan disebut dengan istilah “uang yang bekerja untuk kita”. MLM menjanjikan kebebasan waktu, keringanan tanggung jawab, dengan modal, keahlian dan tingkat pendidikan yang relatif minim. Benarkah sedahsyat itu?

“Secara konsep, MLM itu sebenarnya bagus, karena hukum ekonomi ‘dengan modal kecil, dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin’ bisa terwujud,” ujar Bambang Jasnanto, pengusaha dan dosen UPI, dalam seminar kewirausahaan dan pengembangan diri dengan Neuro Linguistic Program (NLP) bertajuk “Menggugat MLM Secara Ilmiah dan Objektif Serta Studi Analisis Kelayakan Suatu Bisnis”, yang diselenggarakan oleh BEM Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi (Himajupe) UPI bekerja sama dengan Life Control, Minggu (8/1) di Auditorium PKM UPI, Bandung. Namun, menurut Bambang, cukup banyak realitas yang dijumpai di dunia bisnis MLM, yang layak untuk digugat. Sangat kecil masyarakat yang sukses, sedangkan sisanya kebanyakan “trauma”. “Tak heran, MLM punya singkatan lain yaitu ‘menipu lewat menjual’ atau ‘masuk langsung mati’,” kata Bambang, yang disambut tawa peserta seminar.

Banyak perusahaan MLM yang menggembar-gemborkan kehebatan perusahaan, yang tidak lebih dari brainwashing. “Yang memengaruhi bonus itu marketing plan, bukan besar kecil perusahaan,” tukas Bambang. Justru di marketing plan ini, para member baru kerap belum paham benar. Pada umumnya, perusahaan MLM berasal dari luar Indonesia. Oleh karena itu marketing plan-nya kurang cocok untuk karakteristik orang Indonesia. MLM umumnya dikonsep sebagai “pola investasi” untuk masyarakat ekonomi maju, di mana warga negara yang menganggur saja mendapat dana sosial. Sedangkan orang Indonesia yang mengikuti MLM, kebanyakan bertujuan sebagai “solusi finansial” yang ingin cepat dapat hasil. “Terkadang sampai utang sana-sini untuk modal awal,” ujar Bambang.

Marketing plan yang rumit serta iming-iming berupa peringkat dan reward yang menggiurkan seperti, mobil mewah, rumah mewah, dsb., kerap membungkus jumlah bonus yang sesungguhnya didapat oleh member. Banyak biaya harus keluar untuk operasional atau atas nama persyaratan, yang sebenarnya tidak realistis. Misalnya, harus tutup poin/belanja ulang tiap bulan. Jika tidak, maka bonus tidak keluar. “Member kerja dan keluar uang, sedangkan perusahaan dapat untung. Fair tidak tuh?” ungkap Bambang, yang direspons gelengan kepala para peserta.


Reward pada hakikatnya adalah hasil keringat member sendiri yang pemberiannya ditunda. Bukan “hadiah cuma-cuma” dari perusahaan. Hal ini yang patut diwaspadai, karena seringnya merugikan member, sedangkan perusahaan untung besar. Ketika ujung-ujungnya, member tidak berhasil mendapat reward karena berbagai alasan, misalnya kelelahan atau jaringan rontok, maka ketidakberhasilan tersebut biasanya dialamatkan pada “tidak fokus” atau “kurang kerja keras”. “Padahal, itu karena perusahaan yang tidak fair. Masyarakat selama ini memperebutkan kembang gula padahal isinya racun,” tandas Bambang.

Sekarang pertanyaannya, adakah MLM yang antara harapan dan realitas cukup mendekati? Bambang merekomendasikan 4 pertanyaan, semisal ;
“berapa dibayar?”,
“kapan dibayar?”,
“bagaimana dibayar?”,
“seberapa transparan perusahaan?”,
yang harus dianalisis oleh peminat MLM untuk mengetahui probabilitas keberhasilan.

“Jika ingin ikut MLM, ikutlah secara cerdas dengan menganalisis dahulu. Semakin besar bonus, cepat dibayar, tidak rumit, dan tidak ada syarat apa pun kecuali kerja, MLM tersebut masih layak dikerjakan,” tegasnya.

Selain membahas tentang MLM, dalam seminar tersebut juga dibahas mengenai cara meraih kesuksesan lewat metode yang populer di dunia yaitu Neuro Linguistic Program (NLP). Menurut Anthony Robbins dalam bukunya Unlimited Power, NLP adalah studi mengenai bahasa, baik verbal maupun non-verbal yang memengaruhi sistem saraf, yang memungkinkan orang “memprogram kembali” diri mereka agar dapat mengganti pola perilaku yang jelek, dengan pola yang lebih berguna.

“Kebanyakan orang besar yang ada di dunia ini, punya keinginan dan keyakinan diri yang besar. Kalau terhadap diri sendiri, kita sudah menganggap tidak mampu melakukan sesuatu, sampai kapan pun tidak akan mampu,” papar Yudho Purwoko, pengusaha dan trainer NLP, dalam seminar tersebut. Selain itu, Yudho juga menjelaskan tentang keterkaitan antara emosi dan gerakan tubuh, yang dikenal dalam istilah emotion create motion atau motion create emotion. “Emosi yang negatif akan menciptakan racun secara otomatis. Sedangkan keriangan akan menumbuhkan antibodi yang membuat badan menjadi sehat,” kata Yudho.

*** * Dewi Irma Sumber: Harian Pikiran Rakyat

23/02/10

Merantau


Awalnya saya benar-benar terpukau melihat Behind The Scene yang saya lihat di Youtube. Benar-benar film yang terlihat penggarapannya begitu perfectionis. Begitu detail, terutama adegan action-nya.

"Wah.. action nya bener-bener keren nih untuk ukuran film action Indonesia." Hingga membuatku ingin tahu lagi.


Ternyata yang menggarap sutradaranya Gareth Evan, namun bukan orang Indonesia. Orang luar Indonesia yang awalnya membuat film dokumenter tentang pencak silat yang merupakan aset kebudayaan Indonesia. Kemudian dia membuat cerita yang di filmkan dengan menggabungkan pencak silat dengan kisah yang merupakan tradisi orang Minangkabau. Jadilah Merantau. Sangat disayangkan si memang kebudayaan kita yang menggarap orang luar Indonesia.


Alur ceritanya kalau kubilang sebenarnya sederhana. Intinya Seorang pria dari Minangkabau bernama Yuda, yang pergi merantau ke Jakarta. Namun setibanya di Jakarta kondisinya diluar perkiraan. Tanpa disengaja Ia pun terlibat permasalahan yang dikarenakan ia membela seorang perempuan. Namun dikarenakan perempuan itu bermasalah dengan semacam sindikat, mau tidak mau terjadilah perkelahian yang berkelanjutan dengan memperlihatkan kemampuan beladiri Yuda.


Saya pun memang penasaran ingin menonton film ini ya gara-gara adegan action-nya yang saya awalnya berpikir, "hmm... Ini film Indonesia ya? Wow... keren ni action-nya. Jarang Indonesia buat kayak gini. Kalo' dilihat dari trailernya mau saingan sama film Ong Bak nih..."


Ketika akhirnya saya menonton. Saya terpukau dengan adegan-adegan fightingnya. Mikir-mikir dalam hati, abis berapaa ni buat film yang ada adegan berantemnya tapi yang gini niih??!!"

Untuk cerita.. tidak lebih... intinya ya itu yang saya bisa ambil kesimpulan dari perjalanan cerita keseluruhan film ini. Saya memang melihatnya film ini benar-benar di fokuskan di adegan action-action-nya saja.

Sebenarnya itu yang sangat disayangkan. Action-nya keren... tapi belum begitu tersentuh oleh drama nya.

Saya memang merasa alur ceritanya begitu cepat. Entah mengapa terjadi seperti itu. Mungkin terpentok masalah budget atau apa saya pun tidak tahu. Yang pasti melakukan penggarapan Action nya saja sudah melakukan totalitas yang sedemikian rupa. Dengan budget yang tidak sedikit juga. Apalagi jika ditambah konsentrasinya pemunculan adegan-adegan yang sifatnya non-fighting.


Pergi berkelana, membela ketidakadilan....

Hmm...Menonton ini mengingatkan saya ketika saya menonton film-film Bruce Lee atau film-film kungfu yang menguatkan pada letak adegan fightingnya saja.


Tapi Banyak pembelajaran di film ini untuk saya dalam hal penggarapan adegan fighting. Mantap lah. Ternyata memang berat. Tidak sembarangan untuk membuat blocking-blocking adegan, angle-angle shot, camera movement, semuanya harus dicermati se detail mungkin.


Bravo untuk perkembangan film Indonesia ...



19/02/10

Kelayakan Suatu Bisnis

Beberapa check list di bawah bisa membantu anda untuk menilai kelayakan suatu bisnis antara lain:

APAKAH PERUSAHAANNYA LEGAL?
Legalitas perusahaan menjamin ketenangan anda untuk berbisnis tanpa takut berurusan dengan aparat keamanan dan bebas dari resiko penipuan.

APAKAH PERUSAHAANNYA BONAFID?
Bonafiditas perusahaan membuat anda percaya diri memperkenalkan bisnis ini ke mitra atau kenalan anda. Kalau perusahaanya berkantor pusat di garasi tentu membuat anda menjadi tidak PD bukan?

APAKAH BISNISNYA MEMPUNYAI PRODUK YANG BERKUALITAS & BERMANFAAT?
Karena banyak bisnis yang menawarkan produk yang tidak jelas manfaatnya untuk anda, atau kalaupun ada sebenarnya produk tsb bisa didapat dengan harga yg jauh lebih murah dan mudah di mana-mana.

APAKAH ANDA DIBAYAR LAYAK?
Banyak tawaran bisnis yang sebenarnya hanya memanfaatkan keringat anda namun anda dibayar jauh lebih kecil dari seharusnya yang anda terima.

APAKAH ANDA DIBAYAR TANPA SYARAT YANG RUMIT?
Banyak bisnis yang membuat macam-macam syarat sebelum mereka mulai membayar anda.

APAKAH ANDA DIBAYAR CEPAT?
Atau anda harus menunggu cukup lama sebelum uang itu bisa mulai anda manfaatkan?

Dan yang terpenting,

APAKAH ARUS KAS ANDA TIDAK PERNAH NEGATIF?
Sebab ini yang aneh, banyak bisnis yang justru memanfaatkan uang anda bahkan sebelum mereka sanggup membayar kerja keras anda. Sehingga bukannya arus kas positif, namun arus kas negatif yang anda dapatkan. Padahal anda bergabung dengan bisnis adalah untuk mendapat arus kas positif dan bukan sebaliknya.

Jika jawaban-jawaban atas checklist di atas adalah YA, maka bisnis tersebut adalah LAYAK UNTUK ANDA IKUTI. Namun jika tidak, mohon untuk berhati-hati supaya anda tidak terjebak dalam bisnis yang akan merugikan anda.

03/02/10

INVICTUS

Waah... Aku dibuat gak bisa tidur lagi dengan film garapan yang lagi2 adalah garapan dari Clint Easwood, yang sebelumnya aku juga dibuat tidak bisa tidur dengan filmnya sebelum2nya yang berjudul "Million Dollar Baby".

Film ini merupakan film biografi drama berdasarkan perjalanan hidup dari Nelson Mandela selama Turnamen Piala Dunia Rugby yang diadakan di Afrika Selatan tahun 1995. Dibintangi oleh aktor kawakan Morgan Freeman yang berperan sebagai Nelson Mandela, dan Matt Damon sebagai Francois Pienaar, kapten tim Rugby Afrika Selatan.

Kalimat-kalimat di dalamnya benar-benar bisa dijadikan filosofi yang baik untuk kebangsaan. walaupun treatment film ini lebih ke arah olahraga Rugby.

Cerita dari film Invictus ini berdasarkan pada buku karya John Carlin yang berjudul Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation.

Lagi-lagi Clint Easwood sebagai Sutradara pintar memilih naskah yang digarapnya dan bisa benar-benar menciptakan emosi dalam berbagai momen2 di film ini. Banyak hal yang masuk di film ini. Terutama Politik, Sejarah, dan budaya, yang disatukan oleh olahraga Rugby. Keunggulan yang tidak bisa dipungkiri tentu saja dari aktor-aktor di dalamnya. Morgan Freeman dan Matt Damon sudah bisa membawa saya bisa menikmati karakter yang dimainkan oleh mereka yang kuanggap amat sulit dikarenakan ini adalah true story. Benar-benar butuh observasi, riset yang lama dan terlihat sekali totalitas mereka dalam bermain. Terlebih dari Morgan Freeman yang memerankan sosok Nelson Mandela.

"His people needed a leader, He gave them a Champion."

Hal yang mengharukan menurutku adalah bagaimana olahraga bisa menyatukan segala perbedaan dan menciptakan emosi kebangsaan yang tinggi. Menghilangkan ego akan hasrat balas dendam dan sakit hati agar bisa menyatukan bangsa hingga menjadi sosok bangsa yang bernilai di mata dunia. Penderitaan tidak dijadikan rasa sakit hati mendalam yang berujung dendam. Namun dijadikan keikhlasan dan kekuatan mental untuk menerima, dengan memajukan bangsanya melalui sebuah empati dari berbagai macam sisi.
Aku sempat bertanya sendiri... "Nelson Mandela.... Ada juga ya orang seperti itu???"
Penderitaan yang ia alami... Dipenjara kurang lebih 30 tahun, tidak boleh dipertemukan oleh anak istri, mendekam dalam sel yang begitu sempit. Hal itu dikarenakan ia membela bangsanya dari penjajah. Setelah terpilih menjadi Presiden dan memegang kendali pemerintahan, bukan nya dia melawan terhadap yang memenjarakannya akan tetapi justru berkawan dengan musuhnya dulu. Aku rasa sosok seperti ini 1 banding 100. Atau 1 banding 1000 di dunia. Tentunya tindakan Nelson Mandela ini pada awalnya menimbulkan kontra dari masyarakatnya. Tapi keyakinan dia begitu tinggi. Beliau berpikir bagaimana kita bisa melawan musuh jika kita tidak memahami dan turut menyenangi apa yang disukai atau dicintai musuhnya.
Rugby adalah salah satunya. Olahraga yang menurutnya amat begitu digemari, dicintai dan selalu ditonton miliaran orang. Rugby adalah salah satu cara untuk menaikkan citra negara Afrika Selatan dimata dunia. Targetnya pun tidak sembarangan. menjadi juara Piala Dunia Rugby tahun 1995. Target yang dianggap para ahli terlalu berlebihan. Akan tetapi Nelson Mandela berpikiran lain. Mandela mengajak untuk terus melakukan usaha melebihi apa yang diharapkan. Hasilnya Juara Piala Dunia Rugby 1995 berhasil diraih.

Penyusunan pengadeganannya sangat membuat aku terdiam beribu bahasa. Aku masih terpikir bagaimana proses penggarapannya. Bagaimana penyusunannya hingga menciptakan emosi yang bisa menyentuh penontonnya. Disamping memang secara teknis saja memang aku sudah sangat yakin sekali budgetnya berapa kali lipat budget penggarapan film di Indonesia...

Ya Allah... Mudah-mudahan aku gak hanya bermimpi untuk bisa menggarap film semacam ini.


02/02/10

Aku Suka Sejarah...

Tidak dipungkiri walaupun style ku dalam bertutur agak sedikit nge-pop. Namun Aku begitu menghormati dan senang akan sejarah. Aku bukan orang yang ahli dalam hal sejarah. Saat ini aku hanya masih menjadi pendengar yang baik setiap ada orang yang menerangkan atau memberikan suatu informasi akan sejarah.

Sejarah membuat aku belajar mengenal sebab akibat. Sejarah membuat aku belajar untuk lebih menghargai. Sejarah dapat pula membuatku terbantu akan kemana arahku pergi. Sejarah dapat membuatku bisa mengembangkan berbagai inspirasi.
Aku bukanlah sosok yang selalu bisa mengingat segala hal akan sejarah yang kubaca maupun yang kudengar karena terkadang aku pelupa. Solusinya aku hanya bisa mencatat apa yang mampu aku catat dan aku pahami. Sehingga secara perlahan aku bisa mulai bisa mengingatnya di luar kepala. Ketika mulai mengingatnya timbul rasa menyukai akan sejarah. Secara bertahap pun meningkatkan rasa penghargaan ku akan sejarah. Dan berusaha mewujudkannya dalam bentuk aksi sebagai wujud penghargaanku itu.

Aku menjadi suka akan sejarah karena sejarah bisa membuatku menjadi sejajar dan searah. Apalagi informasi sejarah yang kudapat adalah informasi yang riil adanya.

Akan Tetapi sangat disayangkan sejarah yang kudapat ternyata banyak yang melenceng dari kebenaran yang riil dikarenakan adanya unsur kepentingan dan eksistensi.
Sebab akibat dari sejarah pun dimanipulasi sedemikian rupa dengan cara yang cerdik. Sehingga sejarah pun sudah tidak lagi sejajar dan searah dari sebuah kebenaran. Alhasil terjadilah pembohongan ataupun pembodohan massal.

Hmm...
Mudah-mudahan aku bukanlah orang mudah dibohongi, ataupun dibodohi. Karena aku akan terus berusaha mencari baik itu mendengar, melihat, membaca berbagai informasi. Tentunya yang juga dinilai dengan logika yang disertai bukti.

Ya Allah... yang Maha Mendengar, Melihat, dan Maha Pemberi Petunjuk
Dengarkanlah dan berilah hambamu yang lemah ini kekuatan dan petunjuk untuk bisa menilai menjalani...Bimbinglaah hambamu ini ke arah yang benar....

Amiin