Awalnya saya benar-benar terpukau melihat Behind The Scene yang saya lihat di Youtube. Benar-benar film yang terlihat penggarapannya begitu perfectionis. Begitu detail, terutama adegan action-nya.
"Wah.. action nya bener-bener keren nih untuk ukuran film action Indonesia." Hingga membuatku ingin tahu lagi.
Ternyata yang menggarap sutradaranya Gareth Evan, namun bukan orang Indonesia. Orang luar Indonesia yang awalnya membuat film dokumenter tentang pencak silat yang merupakan aset kebudayaan Indonesia. Kemudian dia membuat cerita yang di filmkan dengan menggabungkan pencak silat dengan kisah yang merupakan tradisi orang Minangkabau. Jadilah Merantau. Sangat disayangkan si memang kebudayaan kita yang menggarap orang luar Indonesia.
Alur ceritanya kalau kubilang sebenarnya sederhana. Intinya Seorang pria dari Minangkabau bernama Yuda, yang pergi merantau ke Jakarta. Namun setibanya di Jakarta kondisinya diluar perkiraan. Tanpa disengaja Ia pun terlibat permasalahan yang dikarenakan ia membela seorang perempuan. Namun dikarenakan perempuan itu bermasalah dengan semacam sindikat, mau tidak mau terjadilah perkelahian yang berkelanjutan dengan memperlihatkan kemampuan beladiri Yuda.
Saya pun memang penasaran ingin menonton film ini ya gara-gara adegan action-nya yang saya awalnya berpikir, "hmm... Ini film Indonesia ya? Wow... keren ni action-nya. Jarang Indonesia buat kayak gini. Kalo' dilihat dari trailernya mau saingan sama film Ong Bak nih..."
Ketika akhirnya saya menonton. Saya terpukau dengan adegan-adegan fightingnya. Mikir-mikir dalam hati, abis berapaa ni buat film yang ada adegan berantemnya tapi yang gini niih??!!"
Untuk cerita.. tidak lebih... intinya ya itu yang saya bisa ambil kesimpulan dari perjalanan cerita keseluruhan film ini. Saya memang melihatnya film ini benar-benar di fokuskan di adegan action-action-nya saja.
Sebenarnya itu yang sangat disayangkan. Action-nya keren... tapi belum begitu tersentuh oleh drama nya.
Saya memang merasa alur ceritanya begitu cepat. Entah mengapa terjadi seperti itu. Mungkin terpentok masalah budget atau apa saya pun tidak tahu. Yang pasti melakukan penggarapan Action nya saja sudah melakukan totalitas yang sedemikian rupa. Dengan budget yang tidak sedikit juga. Apalagi jika ditambah konsentrasinya pemunculan adegan-adegan yang sifatnya non-fighting.
Pergi berkelana, membela ketidakadilan....
Hmm...Menonton ini mengingatkan saya ketika saya menonton film-film Bruce Lee atau film-film kungfu yang menguatkan pada letak adegan fightingnya saja.
Tapi Banyak pembelajaran di film ini untuk saya dalam hal penggarapan adegan fighting. Mantap lah. Ternyata memang berat. Tidak sembarangan untuk membuat blocking-blocking adegan, angle-angle shot, camera movement, semuanya harus dicermati se detail mungkin.
Bravo untuk perkembangan film Indonesia ...


0 komentar:
Posting Komentar