Kumpulan tulisan maupun gambar akan aktivitas ucapan dan perbuatanku
yang berdasar dari pikiran, curahan hati, maupun pelajaran dari sekitar yang bercampur jadi satu


Hilmawan Ardianto
hilmawan@hotmail.com

31/12/09

2010

2010 ...
Aku hanya bisa berdoa dan berusaha.
Mudah-mudahan aku diberikan kemudahan dalam menjalani tahun yang keras ini. Tahun yang bisa dibilang lebih kejam dari tahun 2009. Puncak permasalahan di tahun 2009 akan terlihat di 2010.

Di tahun 2010 Insya Allah aku bisa lebih banyak bersabar, bisa menahan diri dan pandai bersyukur dengan apa yang telah aku miliki. Tidak menghadapi penipuan dan kejahatan yang membuatku merugi. Mudah-mudahan aku bisa membaca situasi kondisi, tidak mudah terprovokasi, siap dan bisa menghadapi persaingan-persaingan yang kotor. Dan tidak menjadi korban di dalamnya.

Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang ... Hindarilah aku dari marabahaya dan bencana alam ataupun bencana manusia di tahun ini yaa Allah
Berikanlah aku segala hal yang lebih baik dari sebelumnya. Segala hal yang bermanfaat untuk diriku, keluarga, dan lingkungan sekitar tempat aku duduk, berdiri, dan bersujud.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segalanya...

Amiin...


30/12/09

Melia Nature Indonesia

Teman-teman... ada bisnis MLM yang saya akui ini yang terbaik dari sekian banyak MLM yang lain.

Pada awalnya saya ini bisa dibilang pembenci MLM. Dan banyak MLM yang berdatangan untuk men-prospek saya. Namun, dari sekian banyak orang MLM yang prospek ke saya, Akhirnya saya terpikat pada MLM yang satu ini.

Ini bisnis saya akui benar-benar dahsyat dan nyata hasilnya. Saya akui Melia Nature ini adalah MLM yang yang bisa dijadikan bisnis aset. Lebih dahsyat jika dibanding bisnis konvensional.

Bayangin aja...
  1. Modal cuman sekali (Sekali beli produk)
  2. Produk nya OK, tidak kamuflase. Malahan Produknya sangat amat berguna buat kesehatan manusia.
  3. Belanja cuman sekali seumur hidup. Eh, yang ada malah bisa dapat bonus produk.
  4. Pembayaran Bonus nya paling cepat (pembayaran harian), dari sekian banyak MLM, hanya Melia Nature yang pembayaran bonusnya paling cepat karena omset dibayar satu hari kerja
  5. Perhitungan Bonusnya paling mudah tidak terlalu banyak syarat
  6. Jenis Bonusnya sederhana (3 Jenis Bonus)
  7. Tidak ada peringkat2an (Upline dan downline sama2 member dan tidak bersifat piramida)
  8. Tidak ada Tutup point
  9. Bonusnya terbesar dibanding yang lain
pencapaian bonus kita bergabung untuk
- 1 unit bisnis : Rp. 850.000/hr, minimal 106jt/bulan
- 3 unit bisnis : Rp. 2.550.000/hr, minimal 309jt/bulan
- 7 unit bisnis : Rp. 5.950.000/hr, minimal 721jt/bulan

Dan ada lagi yang penting, bisnis MLM Melia Nature Indonesia ini aman dan bukanlah money game.

- Lihat Perusahaan dan Marketingnya KLIK DISINI !!!
- Lihat Penjelasan Produknya KLIK DISINI !!!

28/12/09

EKSPRESI

EKSPRESI 1

Berawal dari memikirkan apa yang ingin digarap untuk perkenalan ekskul teater. Terpikirlah olehku dan teman-teman kenapa gak bikin film pendek saja dan menghibur tentunya. Sekaligus tentunya apabila iini bisa bisa menarik perhatian orang banyak, maka dapat menambah semangat anak-anak untuk meningkatkan intensitasnya di teater.

Digarap tanpa skrip, cuman sekedar treatment tanpa director shot. Tanpa persiapan yang begitu berarti menurutku.
Peralatan yang begitu amatlah sederhana. Modal Handycam kecil, tripod, serta dorongan galon sebagai tracking kamera.
Semua itu tidak terlalu aku kuatirkan. Berawal dari intuisi ku saja bahwa bersama tim hal ini dapat kubuat menarik.



27/12/09

My Music Video

Music Video nyang Ane garap


Soulare - Struggle (Music Video)




Loser Takes All - Go Stag (Music Video)




- Lulu Zubille - Mabuk Cinta (Music Video)




- Rudy Tan - Kau Seperti Dia (Music Video)



- Henry Jo - Maafkanlah (Music Video)






- Reuni Sabtu Sore - Jatuh Cinta

FESTIVAL TEATER SLTA ke-20

TEMA : KISAH 1001 MALAM
SUBTEMA : BERANI DAN CERDAS


Tahun 2010, Festival Teater SLTA se- JABODETABEK akan diadakan kembali dengan Teater Nadi sebagai panitianya. Direncanakan untuk Festival Teater SLTA 2010, Teater Nadi akan mengambil tema festival ini dengan tema "Kisah 1001 Malam".

LATAR BELAKANG TEMA
Kisah 1001 malam, berawal dari kisah seorang raja yang merasa sakit hati karena sang permasuri berselingkuh dengan seorang prajurit. Mengetahui hal tersebut raja menghukum mati sang permaisuri begitu juga sang prajurit, karena kejadian tersebut sang raja dendam dengan setiap wanita,namum sang raja masih memiliki hasrat ingin menikah. setiap wanita yang dinikahinya setelah malam pertama sang raja membunuh wanita yang dinikahinya, raja melakukan hal tersebut hingga ratusan wanita menjadi korban.
Timbulah kekhawatiran dari seluruh rakyat kerajaan yang memiliki anak perempuan. Sampai suatu ketika sang raja bertemu dan tertarik dengan seorang wanita yang ternyata putri sang penasehat raja. Penasehat raja pun bimbang dengan keinginan sang raj
Karena sang penasehat mengetahui apa yang akan terjadi pad putrinya. Namun sang putri tidak khawatir dengan hal tersebut karena sang putri memiliki cara untuk menghadapi sang raja. Sampaiakhirnya pernikahan pun berlangsung.
Pada malam pertama sang putri berrtindak,sang putri meminta raja mengizin kan ia untuk bercerita suatu kisah dan sang raja pun mengiyakan,setiap kisah yang diceritakan sang putri sedang seru-seru nya sng putri pun menghetikan ceritanya dan ia berjanji akan melanjutkan kisah dimalam selanjutnya. Setiap kisah yang diceritakan sang putri menarik perhatian sang raja dan membuat sang raja aselalu ingin mendengarkan kisah-kisah dari sang putri,begitu terus setiap malam. Tidak terasa sang raja bersama sang putri selama dua tahun. 1000 kisah pun telah putri ceritakan, Akhirnya pada akhir kisah yang ke-1001, sang permaisuri mengingatkan sesuatu pada sang raja. Ia ingatkan tentang perilaku sang raja yang tidak baik. Sang raja pun menyesal akan perilakunya. Ia meminta maaf pada
seluruh rakyatnya. Rakyat kerajaan itu, terutama penasihat kerajaan, sangat senang. Raja mereka kembali adil dan bijak. Kerajaan itu pun makmur dan sejahtera.

Keberanian dan Kecerdasan
Kedua hal ini mesti seiring sejalan. Keduanya saling membutuhkan. Yang satu tidak bisa terlepas dari yang lain. Jika anda berani saja, tapi tidak cerdas, anda bisa kejebur ke jurang kegagalan berkali-kali, tanpa belajar apapun darinya. Dan bila anda cerdas tapi tidak berani, anda hanya akan jadi pengamat dan pengkritik, tanpa beraksi apa-apa. Jadi, dalam menciptakan, melihat, memanfaatkan, dan membagi peluang, anda
harus punya dua hal. Keberanian dan kecerdasan.


Festival Teater SLTA telah berlangsung selama 20 tahun sejak tahun 1990. hingga sekarang festival teater SLTA telah melahirkan seniman-seniman yang berhasil mengembangjkan dunia kreatifitas indonesia. Oleh karena itu tahun ini festival teater SLTA kembali diadakan untuk menambah re-gernerasi yang berani dan cerdas dalam mencipta karya.



My Drama.... part 1

Film adalah inspirasi. Inspirasi yang bisa membawa aku menuju ke berbagai dimensi. Ketika aku menyadari sesuatu itu bisa memberikan inspirasi. Disitulah aku berusaha dapatkan walaupun dengan mengorbankan sesuatu.

Kesukaan ku dengan film mulai aku sadari ketika aku SMP di Semarang. Di saat aku mulai sering datang menonton film ke bioskop sendiri tanpa ditemani oleh orang tua atau yang lebih tua. Tak ada momen lain agar aku bisa menonton dikarenakan karena tak ada yang namanya laser disk/vcd/ vhs/ataupun betamax d rumah. Kesederhanaan dan keterbatasan akan kondisi yang harus kumaklumi. Sebab pada waktu itu, Alat-alat itu tergolong alat yang sangat mewah untuk ada di rumah.

Aku berusaha bagaimana caranya aku bisa nonton bioskop. Waktu itu uang jajan yang kuterima 5000 rupiah seminggu. Namun Tak cukup biaya itu untuk menonton ke bioskop 21 yang pada saat itu harganya 3500 di atrium theater, 5000 di gajahmada theater. Ada yang lebih murah 1500 di empire, tapi itu film-film lama.

Salah satu cara agar aku bisa menonton ya seperti dengan memakai uang jajanku yang semestinya kugunakan untuk makan minum disaat jam istirahat. Waktu itu berpikiran lebih baik uang itu kusimpan agar bisa menonton ke bioskop. Selain itu aku juga mencoba menambah pemasukan uang dengan menjadikan diriku pengantar makanan untuk teman-temanku yang ingin makan di kelas karena tak ingin makan di kantin dikarenakan kantin slalu penuh terutama teman-teman yang perempuan yang entah kenapa malas sekali untuk membeli makanan ke kantin. Masing–masing anak aku kenai 100 rupiah untuk membawakan makanan mereka ke kelas. Alhamdulillah setidaknya 500 -1000 rupiah aku kantongi. Setidaknya satu gorengan bakwan dan es teh manis yang dibungkus plastik sudah sangat amat cukup untuk mengisi perutku untuk sehari di sekolah sampai pulang ke rumah. Dari situlah aku mendapatkan tambahan agar aku bisa menonton ke bioskop.

Sangat bersyukur bagiku aku dibelikan sepeda oleh orang tua. Sehingga itu bisa menghemat ongkos akomodasi antara rumahku di perumahan Krapyak bukit Pasadena dengan sekolahku di SMP 30 Semarang di daerah dekat Pasar Karang Ayu. Jarak tidak aku hiraukan walaupun belakangan aku baru menyadari jaraknya cukup lumayan dengan menaiki sepeda. Ditambah lagi jalanan aspal yang ternyata memang naik turun bukit. Pantas saja suatu ketika aku pernah mengalami typus dikarenakan faktor kelelahan dan tenaga yang diforsir

Bioskop saat itu bisa dibilang rumah keduaku. Hingga aku bisa kenal dengan mba-mba penjaga tiket dengan senyumnya sekaligus pernah memberikan aku harga khusus secara diam-diam tentunya…hahahaa. Mereka mudah mengenalku karena kebiasaanku tiap seminggu sekali datang ke bioskop seorang diri dengan masih mengenakan pakaian sekolah SMP, plus bertubuh pendek dan kecil pula. Malah pernah juga aku tertidur pulas di dalam gedung.

Jarang sekali bahkan tidak pernah ke bioskop bersama teman atau pacar. Sebab itu mengurangi konsentrasiku di saat menonton. Mengurangi energiku saat menonton. Makanya lebih nikmat aku menonton sendiri.

Saat menonton film itulah aku bisa me-recharge daya khayalku. Disaat itulah aku bisa menemukan hiburan yang layak bagiku dibandingkan hiburan lain dan sekaligus bisa berimajinasi seandainya aku dalam kondisi di dalam film itu. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang dengan sengaja pertanyaan itu ingin kujawab sendiri dengan pencarianku sendiri. Bagiku itu adalah kepuasan batin untuk diriku sendiri yang belum ada tandingannya.

Poster Pementasanku

Ngumpulin File-file pementasan... lumayan buat jaga-jaga. :D



MAYA







BULAN MENGHANTAR FAJAR


























AKU SUKA KAMU TIDAK SUKA AKU







Kenapa Multi Level Marketing

Kita perlu mengetahui apa kata para pengamat ekonomi dan pakar marketing tentang Multi Level Marketing (Network Marketing) :


Network Marketing merupakan cara termudah untuk memiliki bisnis sendiri. Semua sistem telah dirumuskan dan dibuktikan. Jika anda ingin mendirikan bisnis sendiri, Anda harus merumuskan dan mencoba semua sistemnya dengan resiko anda sendiri

(Charles J. Ghfens. Pengarang buku no.1 New York Times dan buku best seller “Wealth Withouth Risk)


Hanya 2% orang mengerjakan Network Marketing, dalam waktu 4-6 tahun lagi akan berubah menjadi 10%.

Anda tidak akan mendapat peluang sebagus ini lagi untuk bergabung dengan industri yang memiliki masa depan secerah MLM

( WALL STREET JOURNAL)


Network Marketing menciptakan para milyarder

“Cara paling efisien untuk mencapai konsumen di abad ini”

“Para raksasa dunia, mulai dari AT&T, USSprint, Gillette, Palmalive,dll, nulai tertarik untuk menekuni industri ini.”

“Industri MLM telah menciptakan lebih banyak milyader dibandingkan industri sport dan entertainment digabung menjadi satu.”

(Succes Magazine)


Network Marketing memegang peranan penting dalam peralihan alami bisnis distribusi dunia...

Peluang bisnis terbesar sekarang tersedia lewat distribution, bukan lagi “manufacturing”...,

Maka kekayaan menunggu mereka yang dapat mengurangi ongkos reklame dan distribusi

(Paul Zane Pilzer, ahli ekonomi dan penulis buku “The Wellness Revolution”)



Kenapa Multi Level Marketing? Apa keuntungannya buat kita?

  • Bekerja untuk diri sendiri, menurut jam dan keinginan anda bahkan menentukan penghasilan anda sendiri
  • Modal minimal, tidak perlu kantor, akunting, atau proses administrasi lain, Anda tetap mendapatkan bonus dari pekerjaan Anda di masa lampau
  • Tidak perlu membayar royalty atau franchise-fee, semua bonus dan keuntungan adalah milik Anda
  • Bekerja dari kenyamanan rumah anda sendiri atau darimanapun Anda berada
  • Bisnis keluarga dimana kini suami, istri, anak-anak dapat bekerja sebagai suatu tim dengan tujuan yang sama
  • Pengembalian modal dalam jangka pendek
  • Berkumpul dengan orang-orang positif dan bermotivasi tinggi, modal utama mencapai sukses dalam bisnis maupun kehidupan sosial
  • Tingkat kesuksesan bisnis ini mencapai 10%, lebih tinggi dari bisnis konvensional yang hanya mencapai 3% dimana Anda harus menyiapkan sistem sendiri.
  • Tidak perlu pengalaman. Bahkan Anda bisa mulai mendapatkan bonus sambil belajar



Jadi... Pertanyaannya sekarang bukan “Apakah sebaiknya anda mengerjakan bisnis ini?”

Pertanyaannya sekarang adalah

“Bisnis MLM mana yang bisa saya kerjakan untuk menjadi masa depan saya?”


SOLUSINYA KLIK DISINI

DRAMATURGI

Dipresentasikan oleh Rizki Atina

SEJARAH

1945:Tahun dimana, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978). Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959: The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman (11 Juni 1922 – 19 November 1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Dalam buku ini Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.

INI BUKAN DRAMATURGI ARISTOTELES

Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan. Meski benar, dramaturgi juga digunakan dalam istilah teater namun term dan karakteristiknya berbeda dengan dramaturgi yang akan kita pelajari. Dramaturgi dari istilah teater dipopulerkan oleh Aristoteles. Sekitar tahun 350 SM, Aristoteles, seorang filosof asal Yunani, menelurkan, Poetics, hasil pemikirannya yang sampai sekarang masih dianggap sebagai buku acuan bagi dunia teater. Dalam Poetics, Aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang penampilan/drama-drama berakhir tragedi/tragis ataupun kisah-kisah komedi. Untuk menghasilkan Poetics Aristoteles meneliti hampir seluruh karya penulis Yunani pada masanya. Kisah tragis merupakan obyek penelitian utamanya dan dalam Poetic juga Aristoteles menyanjung Kisah Oedipus Rex, sebagai kisah drama yang paling dapat diperhitungkan. Meskipun Aristoteles mengatakan bahwa drama merupakan bagian dari puisi, namun Aristoteles bekerja secara utuh menganalisa drama secara keseluruhan. Bukan hanya dari segi naskahnya saja tapi juga menganalisa hubungan antara karakter dan akting, dialog, plot dan cerita. Ia memberikan contoh-contoh plot yang baik dan meneliti reaksi drama terhadap penonton. Nilai-nilai yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam maha karyanya ini kemudian dikenal dengan “aristotelian drama” atau drama ala aristoteles, dimana deus ex machina[1] adalah suatu kelemahan dan dimana sebuah akting harus tersusun secara efisien. Banyak konsep kunci drama, seperti anagnorisis[2] dan katharsis[3], dibahas dalam Poetica. Sampai sekarang “aristotelian drama” sangat terlihat aplikasinya pada tayangan-tayangan tv, buku-buku panduan perfilman dan bahkan kursus-kursus singkat perfilman (dramaturgi dasar) biasanya sangat bergantung kepada dasar pemikiran yang dikemukakan oleh Aristoteles.

DRAMATURGI: BENTUK LAIN DARI KOMUNIKASI

Bila Aristoteles mengungkapkan Dramaturgi dalam artian seni. Maka, Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Seperti yang kita ketahui, Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life. Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Bila Aristoteles mengacu kepada teater maka Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari Diri – Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri. Manusia menciptakan sebuah mekanisme tersendiri, dimana dengan permainan peran tersebut ia bisa tampil sebagai sosok-sosok tertentu. Hal ini setara dengan yang dikatakan oleh Yenrizal (IAIN Raden Fatah, Palembang), dalam makalahnya “Transformasi Etos Kerja Masyarakat Muslim: Tinjauan Dramaturgis di Masyarakat Pedesaan Sumatera Selatan” pada Annual Conference on Islamic Studies, Bandung, 26 – 30 November 2006: “Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya.”

DRAMATURGIS : KITA SEBENARNYA HIDUP DIATAS PANGGUNG

Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan. Contohnya, seorang front liner hotel senantiasa berpakaian rapi menyambut tamu hotel dengan ramah, santun, bersikap formil dan perkataan yang diatur. Tetapi, saat istirahat siang, sang front liner bisa bersikap lebih santai, bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak formil lainnya (merokok, dsb). Saat front liner menyambut tamu hotel, merupakan saat front stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah menyambut tamu hotel dan memberikan kesan baik hotel kepada tamu tersebut. Oleh karenanya, perilaku sang front liner juga adalah perilaku yang sudah digariskan skenarionya oleh pihak manajemen hotel. Saat istirahat makan siang, front liner bebas untuk mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari pertunjukan tersebut. Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen hotel adalah bagaimana sang front liner tersebut dapat refresh untuk menjalankan perannya di babak selanjutnya. Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.


KRITIK TERHADAP DRAMATURGI

Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total

Institusi total maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi dianggap dapat berperan baik pada instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki adanya “pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial akan lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.

Menihilkan “kemasyarakatan”

Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan sosiologi ada satu kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila berhadapan dengan peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan.

Dianggap condong kepada Positifisme

Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme[4]. Penganut paham ini menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan. Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.


ANALISA DRAMATURGI

Dramaturgis masuk dalam Perspektif Obyektif

Dramaturgis dianggap masuk ke dalam perspektif obyektif karena teori ini cenderung melihat manusia sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal ingin memasuki peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subyektif (kemampuan untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran tersebut manusia berlaku objektif, berlaku natural, mengikuti alur. Misalnya, pada kasus Kekerasan pada Rumah Tangga (“KDRT”), saat perilaku kekerasan itu hendak terjadi, korban sebenarnya memiliki pilihan, berserah diri atau melakukan perlawanan. Bila ia memberontak maka konsekuensinya adalah ini dan bila ia pasrah maka akibatnya seperti itu. Proses subyektif ini akan beralih menjadi obyektif saat ia menjalani peran yang dipilihnya tersebut. Misalnya yang ia ambil adalah pasrah karena ia takut kalau ia melarikan diri konsekuensinya lebih parah, atau ia merasa terlalu tergantung kepada tersangka dan mengkhawatirkan nasih anaknya bila ia melawan. Maka, setelah itu ia akan menjalani perannya sebagai korban. Secara naluriah ia akan menutupi bagian tubuhnya yang mungkin menjadi sasaran kekerasan. Atau ia berusaha untuk menutupi telinganya untuk melindungi mental dan psikologisnya. Itulah mengapa dramaturgi di sebut memiliki muatan objektif. Karena pelakunya, menjalankan perannya secara natural, alamiah mengetahui langkah-langkah yang harus dijalani.

Pendekatan Keilmuan Little John – Pendekatan Scientific (ilmiah – empiris)

Seperti telah dijabarkan diatas, Dramaturgis merupakan teori yang mempelajari proses dari perilaku dan bukan hasil dari perilaku. Ini merupakan asas dasar dari penelitian-penelitian yang menggunakan pendekatan scientific[5]. Obyektifitas yang digunakan disini adalah karena institusi tempat dramaturgi berperan adalah memang institusi yang terukur dan membutuhkan peran-peran yang sesuai dengan semangat institusi tersebut. Institusi ini kemudian yang diklaim sebagai institusi total sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya. Bahwa hasil dari peranan itu sesungguhnya, bila proses (rumusnya) dijalankan sesuai dengan standar observasi dan konsistensi maka bentuk akhirnya adalah sama. Contohnya, bila seorang pengajar mempraktekkan cara mengajar sesuai dengan template perguruan tinggi maka kualitas keluaran perguruan tinggi tersebut akan menghasilkan kualitas yang bisa dikatakan relatif sama. Atau untuk contoh front liner hotel diatas, bila front liner dapat memainkan skenario penyambutan tamu manajemen hotel, niscaya tamu akan merasa dihargai, dihormati, senang dan bersedia untuk datang menginap kembali di hotel tersebut.


[1] Frase ini berasal dari bahasa Latin yang secara bahsa berarti Tuhan keluar membantu. Hal ini menunjuk pada karakter buatan, imajiner, alat ataupun peristiwa yang tiba-tiba saja terjadi atau ada dalam sebuah pertunjukan fiksi atau drama sebagai jalan keluar dari sebuah situasi atau plot yang sulit (contohnya, tiba-tiba ada ibu peri yang muncul untuk menolong Cinderella supaya bisa datang ke pesta dansa di istana).

[2] Aristoteles mengartikan kata ini sebagai “perubahan perilaku dari acuh menjadi butuh karena perkembangan cerita (mengetahui yang sesungguhnnya), tumbuhnya rasa cinta atau benci yang timbul antar karakter yang ditakdirkan oleh alur cerita”. Contohnya, pangeran dalam cerita Cinderella sebelum tidak peduli pada gadis-gadis yang memiliki sepatu kaca, tapi begitu ia mengetahui bahwa gadis misteriusnya memakai sepatu kaca, maka ia mencari gadis-gadis yang muat dengan sepatu kacanya.

[3] Kata ini mengacu kepada sensasi, atau efek turut terbawanya alur cerita ke dalam hati. Perasaan ini seyogyanya muncul di hati para penonton seusai menonton drama yang mengena. (contohnya, turut menangis,tertawa, atau perasaan iba terhadap karakter drama).

[4] Positifisme dirunut dari asalnya berasal dari pemikiran Auguste Comte pada abad ke 19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains.

[5] Menurut pandangan ini ilmu diasosiasikan dengan objektivitas. Objektivitas yang dimaksudkan di sini adalah objektivitas yang menekankan prinsip standardisasu observasi dan kosistensi. Landasan philosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur.

sumber