Film adalah inspirasi. Inspirasi yang bisa membawa aku menuju ke berbagai dimensi. Ketika aku menyadari sesuatu itu bisa memberikan inspirasi. Disitulah aku berusaha dapatkan walaupun dengan mengorbankan sesuatu.
Kesukaan ku dengan film mulai aku sadari ketika aku SMP di Semarang. Di saat aku mulai sering datang menonton film ke bioskop sendiri tanpa ditemani oleh orang tua atau yang lebih tua. Tak ada momen lain agar aku bisa menonton dikarenakan karena tak ada yang namanya laser disk/vcd/ vhs/ataupun betamax d rumah. Kesederhanaan dan keterbatasan akan kondisi yang harus kumaklumi. Sebab pada waktu itu, Alat-alat itu tergolong alat yang sangat mewah untuk ada di rumah.
Aku berusaha bagaimana caranya aku bisa nonton bioskop. Waktu itu uang jajan yang kuterima 5000 rupiah seminggu. Namun Tak cukup biaya itu untuk menonton ke bioskop 21 yang pada saat itu harganya 3500 di atrium theater, 5000 di gajahmada theater. Ada yang lebih murah 1500 di empire, tapi itu film-film lama.
Salah satu cara agar aku bisa menonton ya seperti dengan memakai uang jajanku yang semestinya kugunakan untuk makan minum disaat jam istirahat. Waktu itu berpikiran lebih baik uang itu kusimpan agar bisa menonton ke bioskop. Selain itu aku juga mencoba menambah pemasukan uang dengan menjadikan diriku pengantar makanan untuk teman-temanku yang ingin makan di kelas karena tak ingin makan di kantin dikarenakan kantin slalu penuh terutama teman-teman yang perempuan yang entah kenapa malas sekali untuk membeli makanan ke kantin. Masing–masing anak aku kenai 100 rupiah untuk membawakan makanan mereka ke kelas. Alhamdulillah setidaknya 500 -1000 rupiah aku kantongi. Setidaknya satu gorengan bakwan dan es teh manis yang dibungkus plastik sudah sangat amat cukup untuk mengisi perutku untuk sehari di sekolah sampai pulang ke rumah. Dari situlah aku mendapatkan tambahan agar aku bisa menonton ke bioskop.
Sangat bersyukur bagiku aku dibelikan sepeda oleh orang tua. Sehingga itu bisa menghemat ongkos akomodasi antara rumahku di perumahan Krapyak bukit Pasadena dengan sekolahku di SMP 30 Semarang di daerah dekat Pasar Karang Ayu. Jarak tidak aku hiraukan walaupun belakangan aku baru menyadari jaraknya cukup lumayan dengan menaiki sepeda. Ditambah lagi jalanan aspal yang ternyata memang naik turun bukit. Pantas saja suatu ketika aku pernah mengalami typus dikarenakan faktor kelelahan dan tenaga yang diforsir
Bioskop saat itu bisa dibilang rumah keduaku. Hingga aku bisa kenal dengan mba-mba penjaga tiket dengan senyumnya sekaligus pernah memberikan aku harga khusus secara diam-diam tentunya…hahahaa. Mereka mudah mengenalku karena kebiasaanku tiap seminggu sekali datang ke bioskop seorang diri dengan masih mengenakan pakaian sekolah SMP, plus bertubuh pendek dan kecil pula. Malah pernah juga aku tertidur pulas di dalam gedung.
Jarang sekali bahkan tidak pernah ke bioskop bersama teman atau pacar. Sebab itu mengurangi konsentrasiku di saat menonton. Mengurangi energiku saat menonton. Makanya lebih nikmat aku menonton sendiri.
Saat menonton film itulah aku bisa me-recharge daya khayalku. Disaat itulah aku bisa menemukan hiburan yang layak bagiku dibandingkan hiburan lain dan sekaligus bisa berimajinasi seandainya aku dalam kondisi di dalam film itu. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang dengan sengaja pertanyaan itu ingin kujawab sendiri dengan pencarianku sendiri. Bagiku itu adalah kepuasan batin untuk diriku sendiri yang belum ada tandingannya.


0 komentar:
Posting Komentar