Kumpulan tulisan maupun gambar akan aktivitas ucapan dan perbuatanku
yang berdasar dari pikiran, curahan hati, maupun pelajaran dari sekitar yang bercampur jadi satu


Hilmawan Ardianto
hilmawan@hotmail.com

27/09/09

TEATER JANGAN MENGANGGU SEKOLAH. SEKOLAH JANGAN MENGANGGU TEATER


REKAN TEATER ku yg di SMA ...

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa saya membuat ini dikarenakan telah terjadinya dilema yang berkepanjangan di dalam Teater SMA.


forum ini emang saya tujukan untuk teman-teman teater yg masih menjadi siswa SMA. Sifat dasar dari ini sekedar memberikan masukan saja.


Teman-teman di Teater Nadi mungkin udah banyak yang sudah denger kalimat yang menjadi judul topik diatas.


"TEATER JANGAN MENGANGGU SEKOLAH. SEKOLAH JANGAN MENGANGGU TEATER"


Kalimat ini sudah ada sejak lama. Bahkan sebelum saya ber-teater di SMA malah. Namun sayangnya saat ini, kalimat ini tinggallah sebuah kalimat yang berakhir tanpa tindakan nyata. Hanya sekelebat terlintas dalam otak pikiran kita lalu takarannya mulai menurun ketika menuju rasa kita untuk memahami kalimat diatas. Kurang dipahami dan dirasakan, sehingga tindakan nyatanya menjadi setengah-setengah , Bahkan total hingga tak ada sama sekali.


Alhasil...

Teater di SMA jadi sosok ekskul yang mengganggu dan mengurangi waktu belajar untuk sekolah secara formal, hingga malahan sampai ada yang menganggap teater itu dianggap merusak jati diri siswa menjadi sosok yang melawan orangtua dan guru.

Tidak ada gunanya berteater. Disitu hanya tempat berkumpul, gila-gilaan, bikin cerita lalu latihan akting buat pementasan.

Teater itu ekskul yang membuat kita belajar jadi gila, jadi seniman senewen, sosok idealis yang membangkang dan tidak baik untuk masa depan. Tidak ada sosok yang membanggakan di dalam Teater. Mendengar itu semua sungguh menjadi dilema yang sangat menyesakkan bagi saya.


Padahal...

Teater di SMA bagi saya tidak mengajarkan kita untuk itu.

Teater belajar untuk mengenal diri kita pribadi secara mendalam. Dari pengenalan diri kita secara pribadi, baik diri kita yang positif maupun negatif. Ada keseimbangan di dalamnya. Kemudian kita bisa mengembangkan diri kita sesuai dengan jati diri kita yang sebenarnya. Dari situ kita punya alasan yang jelas, realistis, dalam menentukan jalan hidup kita. Jadinya tidak ada alasan sebenarnya Teater itu tidak baik untuk masa depan kita. Tidak ada alasan untuk menyalahkan Teater, dan jangan sampai sekolah mengganggu Teater.


Disatu sisi, Teater juga jangan sampai menganggu sekolah. Karena ada tanggung jawab kita pada orangtua yang membiayai kita, dan tanggung jawab para guru yang mengajar kita secara formal. Orang tua bekerja keras bekerja ingin agar anaknya bahagia dan punya masa depan yang baik, dengan pendidikan yang baik. Guru di sekolah bertanggung jawab agar murid-muridnya mendapat prestasi dengan nilai yang baik. Mereka harus kita hormati tanpa terkecuali. Namun bukan berarti aktivitas sekolah kalian mengganggu teater.


Sesuatu hal yang sering juga saya dengar dari kalian yang masih bersekolah, bahwa kalian mengeluh kalau orang tua marah-marah, kesal, mengeluh, bahkan melarang kalian untuk berteater. Saya sering pula mendengar bahwa guru-guru ada yang menghalangi kalian beraktivitas teater secara langsung maupun tidak langsung.

Ada alasan sebenarnya mereka berkata ataupun bertindak seperti itu. Dan alasan-alasan mereka itu masuk akal. Intinya secara pikiran positifnya mereka ingin kalian konsentrasi belajar.


Namun belajar itu ada 2 macam menurut saya. Belajar secara formal, dan belajar secara informal. Secara formal kalian belajar disekolah, dengan datang ke sekolah, mendengar guru berbicara, mencatat apa yang guru jelaskan, mengerjakan tugas atau PR, melakukan persiapan untuk ulangan atau ujian. Namun itu tidak cukup. Makanya ada pembelajaran informal, seperti sosialisasi dalam pergaulan, ekstrakulikuler, penambahan riset dan referensi kehidupan. Kedua hal itu saling berikatan satu sama lain, dan jangan sampai terpisah. Untuk menyatukan itu semua kalian butuh yang namanya pemahaman. Pemahaman apa? ... ya pemahaman tentang diri kalian.


Kalian ini SMA... sudah bukan lagi SD maupun SMP yang segalanya mesti diatur untuk menjadi baik atau sosok yang diinginkan. Untuk menjadi baik atau yg diinginkan ya dilakukan oleh diri kita sendiri. Karena kita bukanlah robot. Masa SMA adalah masa mencari jati diri kalian sebenarnya.

( tapi jaman sekarang saya akui pencarian jati diri sudah dimulai dari SMP)


Masa SMA adalah proses pencarian “Aku” nya kalian dari beberapa “saya” nya kalian. Masa inilah yang mesti disadari temen-temen karena masa nya kalian bisa dibilang masa yang riskan atau rentan. Salah-salah kalian mencari “Aku”nya kalian, kalian bisa terjerembab terus ke dalam belenggu masalah buat lingkungan sekitar. Masa kalian itu bisa dibilang masa berkecamuk nya ego manusia yang sangatlah sulit terkontrol. Oleh karena itu kenakalan adalah hal yang wajar dikarenakan proses ingin tahu kalian. Akan tetapi mesti diawasi juga oleh kalian. Kenapa kok kenakalan remaja itu hal yang saya anggap wajar. Karena manusia itu seutuhnya gak ada yang baik terus. Jeleknya pasti ada. Justru itu yang membuat manusia menjadi sosok yang unik.


“Sosok Yang Unik”

Dari kalimat itu, temen-temen mencoba mencari, memahami dan mengembangkan diri pribadi kalian. Sosok yang unik tidak bisa didapat hanya dengan mencari yang baik. Tapi juga mencari yang buruk. Sosok yang unik tidak bisa didapat hanya dengan sifat positif. Tapi juga dengan sifat negatif. Sosok yang unik didapat dari proses keseimbangan diri manusia. ada istilahnya yaitu “Yin Yang”, merupakan keseimbangan antara yang baik dan yang buruk di dalam ekosistem alam. Kok alam sih??

Jelas memang manusia itu berhubungan sekali dengan alam. Alam dan manusia itu saling berpengaruh satu sama lain hingga terbentuklah kata “Dunia”. Karena saling berpengaruh, maka otomatis ya keduanya harus menghargai. Kalau mau dibahas lebih lanjut lagi untuk hal ini bisa panjang. Hehe. Next Discuss lah..


Ber-Teater

Temen-temen mungkin ada yang sudah tahu pengertian teater. Atau mungkin ada juga yang gak tahu. Bagi yang sudah tahu mungkin saja tidak paham apa maksudnya. Karena ketidak pahaman itu maka terciptalah ketidakharmonisan antara kita yang berteater dengan Orangtua dan guru.

Kalau berbagai pihak bisa memahami arti Teater, saya yakin ketidakharmonisan itu akan hilang dan mereka akan mendukung kalian yang berteater.

Sebelum masuk ke pengertian teater, kalian sering dengar tentang kesenian. Nah kata kesenian ini mempunyai hubungan erat dengan Teater.


Kesenian itu apa sih?”

Kesenian itu ya hal yang berhubungan dengan seni.

Seni itu apa?”

Seni itu kemahiran menciptakan karya yang berkualitas dilihat dari segi “Keindahan”nya.

“Berarti sesuatu yang berhubungan dengan Keindahan itu seni dong?”

iya begitulah

Sedangkan, Keindahan itu adalah sesuatu yang indah. Indah itu seperti : bagus, elok, cantik, dan berbagai hal menaruh minat perhatian. Itulah keindahan. Maka keindahan itu adalah Seni.


“Terus apa hubungannya dengan Teater?”

Teater itu merupakan Seni Campuran.

Mengapa Seni Campuran? Karena seni itu macam-macam unsurnya. Seperti sastra, seni rupa, arsitektur, musik, tari, itu semua merupakan unsur-unsur seni. Unsur-unsur itu dicampur atau digabung jadilah sebuah kata Teater. Karena penggabungan dari berbagai macam otomatis tercipta berbagai macam kerja sama. Maka Teater bisa dikatakan juga Seni Kerja Sama.

Teater juga mempunyai arti sederhana dunia kecil yang mempelajari dunia besar.


Dari Pengertian-pengertian itu, apakah Teater layak disalahkan?

Justru disinilah kita saling mendukung agar aktivitas berteater bisa berjalan dengan baik.


Teater itu merupakan sebuah sistem. Namun memang sistem itu tergantung pula siapa yang menjalankan. Sama hal nya dengan sebuah organisasi. Kalaupun ada yang tidak mendukung itu dikarenakan ya pertama masalah ketidakpahaman akan maksud dari Teater. Kedua, masalah dari diri kitanya sendiri yang kurang konsekuen dan paham untuk menjalani. Kalau saya melihat masalah itu lebih banyak yang di yang kedua.


“ Lho... kok gitu??!!! Berarti menyalahkan kita nya yang SMA donk?!... Kak, kita sudah merasa konsekuensi kita di teater dah lumayan kok!!! Kita udah banyak berkorban untuk teater. Tapi apa hasilnya?! Kita tetep disalahin, dihalang-halangin, fasilitas di persulit, dibuat aktivitasnya berteaternya kurang!! “


Saya hanya menjawab sekaligus menanyakan balik ke kalian. Kalian pilih mana yang lebih baik. Kualitas atau Kuantitas? Misalkan secara kuantitas kalian baik. Datang latihan, kumpul, diskusi, banyak mengorbankan waktu untuk teater lah pokoknya. Tapi kualitas kalian mentok disitu situ aja ...

Wajar saja respon orang di luar teater akan terus menyalahkan kita, kemudian mengurangi waktu aktivitasnya, fasilitas dihilangkan, bahkan lebih parahnya lagi menghilangkan aktivitas teater. Mau bagaimana lagi.. hasil yang kita capai disitu situ aja. Nggak ada perkembangan.. Kualitaslah yang menurut saya penting.


“Kualitas seperti apa yang bisa akhirnya diakui oleh sekolah, Kak? Bikin pementasan yang bagus? Ikut festival teater lalu teater kita jadi juara dapet piala, terus piala itu kita tunjukin ke sekolah?”

Kualitas diri kita secara personal. Kualitas kita memanfaatkan waktu. Kualitas kita melakukan inisiatif untuk memaksimalkan usaha kreatif. Kualitas kepribadian kita sebagai pelajar SMA. Hadiah ataupun penghargaan itu bagi saya sifatnya sementara. Dan kalau gak disertai kualitas personal kita yang baik, maka itu akan jadi bumerang buat kita.


“Aduuuh..bingung, Kak !”


Kalian tidak akan bingung jika, kalian bisa dan terus belajar memahami diri kalian lalu menyesuaikannya ke dalam lingkungan sosial. Di teater kalian belajar tentang keaktoran kan.

Aktor itu manusia yang cerdas. Gunakan kecerdasan kalian berakting dalam lingkungan sosial kalian. Kalian cerdas memainkan peran kalian sebagai murid yang baik. Kalian cerdas memainkan diri kalian sebagai anak yang berbakti sama orang tua. Kalian cerdas memainkan peran kalian sebagai sahabat, pacar, dan sebagainya yang berhubungan dengan sosialisai kalian.

Secara tidak langsung kalian belajar menyutradarai serta berperan terhadap diri kalian sendiri.


“Berarti kakak mengajarkan kita untuk berbohong dong?!”


Sama sekali tidak. Saya tidak mengajarkan kalian berbohong. Saya mengajarkan kalian berakting secara positif di kehidupan.


“Ya akting kan bisa berarti berpura-pura, kak.”


Berarti pengertian akting yang kalian dapat itu pengertian secara kasar.

Akting itu kan mempunyai pengertian suatu proses, cara, perbuatan memahami dan memainkan perilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang. Dan seseorangnya itu adalah kita. Apa disitu ada kata berbohong? Nggak kan. Tapi akting ini bisa menimbulkan kesan yang positif ataupun negatif. Semua itu tergantung pemahaman kita terhadap dasarnya akting itu sendiri.


Sayangnya banyak yang gak mecoba memahami dasarnya akting. Dasar akting itu kan berdasarkan kepribadian kita sebagai manusia. Nah kepribadian manusia itu apa aja. Kalau yang saya ketahui kepribadian manusia itu meliputi fisik, intelektual, sama spiritual.

Fisik itu proses kita berekspresi, intelektual itu proses analisa kita, dan spiritual itu proses transformasi setelah kita meyakininya. 3 hal ini yang mesti kita pahami dalam berakting. Dan sifatnya bukan kepura-puraan akan tetapi sebuah kepercayaan. Mungkin temen-temen ada yang pernah mendengar kata “Acting is Believing”.


Dalam hal ini, saya hanya mengajak kalian untuk memainkan peran kalian di kehidupan sehari-hari selain memainkan peran kalian dalam pementasan. Dalam setiap kehidupan kita memainkan peran. Tentunya disesuaikan pula dengan diri kita pribadi. Yang tahu diri kita ya hanya kita sendiri dan tuhan pastinya. Konsep pengemasan kreatif ada di tangan kita sendiri. Skenario dari tuhan kita kemas dengan baik dengan kita sebagai peran utamanya. Bisa dikatakan pula kita belajar ber-ikhtiar dengan cara yang cerdas.


Ikhtiar dalam hal ini kita bisa kita artikan proses atau tahapan pembentukan skenario untuk kita. Mulai dari dasar cerita kita, lalu menuju treatment/outline, hingga kemudian menuju perjalanan dan memodifikasi skenario kita. Proses itu kita jalankan hingga kita bisa mendapatkan apa yang terbaik untuk kita. Karena untuk mendapatkan yang terbaik untuk kita memang harus melalui proses yang panjang, berliku, menyakitkan. Dan disaat ketika kita telah mendapatkan kepercayaan yang positif di kehidupan, barulah kita mendapatkan ending yang baik buat kita.


Apa yang saya katakan itu sebagian besar adalah apa yang saya pernah lakukan waktu saya masih memerankan diri saya sebagai seorang pelajar. Saya sangat bersyukur hasilnya sebagian besar sesuai keinginan. Karena kepercayaan-kepercayaan secara berproses datang untuk saya.


Sebagai seorang anak saya dipercaya menentukan pilihan yang terbaik menurut saya. Karena pada awal-awalnya secara formal saya mendapatkan rangking ataupun nilai-nilai yang bagus di sekolah dan sebagai seorang murid saya dipercaya dan diyakini sebagai anak yang rajin, pintar dan penurut. Alhamdulillah saya menjalankan peran-peran itu bisa dibagi dengan aktivitas saya berteater. Alhasil apa yang saya inginkan untuk proses perjalanan hidup saya selanjutnya bisa disetujui secara langsung dengan sedikit pertanyaan tanpa larangan sekalipun dan terus mendukung apa yang saya lakukan, sekaligus diberi keleluasaan dalam beraktivitas teater.


Jadi kesimpulannya, kenapa tidak kalian mulai peran kalian sebagai pelajar yang baik. Dengan awalnya mempelajari situasi kondisi lingkungan saat ini. Mempelajari hingga akhirnya menemukan cara hingga kalian menjadi sosok yang dipercaya dahulu oleh orang tua dan guru. Sambil beraktivitas teater, kalian mencoba mempelajari dan melakukan apa yang mereka inginkan, kemudian secara bertahap kalian perlihatkan apa yang kalian inginkan. Dan akhirnya kita bisa menggabungkan apa yang mereka inginkan dengan apa yang kalian inginkan.

“Acting is believing” . Kita berikan dulu kepercayaan terhadap mereka, maka dengan sendirinya mereka akan mempercayai kita.


"TEATER JANGAN MENGANGGU SEKOLAH. SEKOLAH JANGAN MENGANGGU TEATER"

Secara langsung maupun tidak langsung, kalian bisa belajar mengontrol ego, melatih sensitivitas, mempelajari karakter yang bisa kalian jadikan referensi dalam keaktoran kalian.


Sekian dulu dari saya. Sebenarnya masih banyak yang masih ingin saya utarakan. Namun untuk saat ini segini dulu ya. Saya ingin melihat respon apa yang terjadi selanjutnya. Dan saya berharap kalian dapat melakukannya. Tulisan ini dibuat dengan tujuan memberikan masukan ataupun salah satu solusi kepada kalian berdasarkan pengamatan dari apa yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, saya pelajari, dan yang pernah saya lakukan.


Salam teater

0 komentar:

Posting Komentar